Mengurangi Jeratan Fast Fashion Demi Lingkungan

gambar tersebut menyebutkan mengurangi jeratan fast fashion demi lingkungan gambar tersebut menyebutkan mengurangi jeratan fast fashion demi lingkungan

Mengurangi Jeratan Fast Fashion Demi Lingkungan

Jika Anda ingin mengurangi jejak karbon, menerapkan gaya hidup yang lebih hijau, atau membuat satu perubahan kecil yang berdampak positif, lemari pakaian Anda adalah tempat pertama untuk memulai kebiasaan yang ramah lingkungan dalam berbelanja dan berpakaian.

Kalau mau jujur, tren fast fashion menawarkan kesenangan dalam sekejap: Pakaian murah yang memungkinkan kita menyegarkan isi lemari pakaian dengan cepat dan mengikuti tren terkini. Namun, industri fast fashion memiliki sisi kelam di baliknya. Sesuatu yang hampir terlalu bagus untuk menjadi nyata biasanya memang sebaliknya. Dalam hal ini, demi menekan biaya produksi agar pakaian bisa dijual dengan harga murah, industri fast fashion seringkali mengabaikan dampak lingkungan yang ditimbulkan, penggunaan sumber daya yang sangat besar dan bahan baku yang tidak ramah lingkungan.

Apa itu fast fashion?

Gaun cantik seharga Rp150.000 atau t-shirt seharga Rp75.000 yang tergantung di rak toko pakaian kemungkinan besar adalah fast fashion. Toko pakaian yang mengubah gaya manekinnya dengan pakaian baru setiap minggu, atau situs web yang memperbarui penawarannya setiap hari, itu juga termasuk fast fashion. Pada dasarnya, pakaian trendi murah adalah fast fashion. Istilah ini mengacu pada model bisnis industri pakaian yang mereproduksi gaya terbaru selebritas atau tren catwalk adibusana terakhir, memproduksinya secara massal dengan bahan baku dan biaya produksi rendah agar tiba di tangan konsumen secepat mungkin. Koleksi fast fashion selalu diperbarui setiap beberapa minggu sehingga mendorong pola belanja konsumtif dan penumpukan sampah pakaian (limbah fashion) dengan cepat.

Bagaimana sejarah fast fashion?

Sebelum memasuki abad ke-20, sebagian besar pakaian dibuat secara manual, menggunakan tenaga manusia dan dijahit sesuai dengan ukuran tubuh, baik di toko khusus atau dijahit sendiri di rumah. Satu potong pakaian bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu untuk dibuat. Hal ini mulai berubah ketika Revolusi Industri yang berawal dari Britania Raya menyebar ke Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang dan seluruh dunia. Penemuan teknologi seperti mesin tekstil melahirkan perubahan secara massal dalam cara memproduksi pakaian yang berlangsung hingga kini.

Pada tahun 1960-an, ketika rata-rata orang Amerika membeli kurang dari 25 potong pakaian per tahun, perputaran mode mulai berlangsung lebih cepat, dan proses manufaktur berkembang seiring dengan hal itu untuk mengikuti selera yang selalu berubah. Sejak saat itu, lajunya semakin pesat: Berdasarkan perkiraan, orang Amerika membeli rata-rata 68 potong pakaian per tahun pada tahun 2018. Sementara itu, menurut sebuah penelitian, rata-rata setiap potong pakaian hanya dikenakan sebanyak tujuh kali sebelum dibuang. Kemana perginya semua pakaian yang tidak terpakai itu? Tentu saja ke TPA. Berdasarkan data Badan Perlindungan Lingkungan pada tahun 2015, limbah tekstil (sebagian besar pakaian) mencapai hingga 10,5 juta ton.

Merek-merek fast fashion

Salah satu pelopor fast fashion adalah brand ternama asal Spanyol, Zara. Didirikan pada tahun 1975, brand ini mulai dikenal setelah pendirinya mengubah desain, manufaktur, dan proses distribusi pada tahun 1980 untuk memproduksi versi yang lebih murah dari pakaian kelas atas. Konsep ini kemudian ditiru oleh merek-merek lain seperti H&M, Shein, PULL&BEAR, Bershka, Forever 21, Uniqlo, Topshop, Primark, dan Mango.

Bagaimana cara mengenali merek fast fashion

Busana murah dibuat oleh tenaga kerja yang dibayar murah dengan menggunakan bahan berkualitas rendah. Beberapa ciri yang bisa Anda kenali dengan mudah adalah:

  • Harga murah. Salah satu cara termudah untuk mengenali merek fast fashion adalah dengan melihat harganya. Jika menurut Anda harganya terlalu murah untuk bisa dipercaya, mungkin insting Anda benar.
  • Bahan sintetis. Walaupun beberapa barang berkualitas dibuat dengan poliester, rayon, dan nilon, fast fashion biasanya menggunakan bahan-bahan ini lebih dari bahan alami seperti katun dan sutra.
  • Kualitas jahitan buruh. Periksa jahitan dan kancing. Jahitan produk fast fashion biasanya mudah lepas dan kancingnya kemungkinan longgar.
  • Memutar persediaan. Merek yang memperbarui stok mereka setiap minggu atau dua minggu mengikuti model fast fashion untuk membuat konsumen membeli, membuang, dan membeli lebih banyak lagi.

Masalah yang ditimbulkan fast fashion

Untuk mengantarkan semua produksi pakaian baru hingga ke tangan konsumen berarti ada banyak jalan pintas yang diambil dalam proses desain, produksi, dan pengiriman.

Dampak lingkungan

Salah satu bahan termurah dan terpopuler adalah poliester. Sayangnya, poliester melahirkan segudang masalah. Pertama, dibutuhkan hampir 432 juta barel minyak setiap tahun untuk membuat tekstil sintetis. Ketergantungan pada bahan bakar fosil ini menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berkaitan dengan perubahan iklim. Kain berbasis plastik ini juga berpotensi melepaskan partikel mikroplastik (potongan-potongan kecil plastik sepanjang 8 mm) di mesin cuci yang kemudian terbawa ke laut, dan mencemari lautan dan saluran air lainnya.

Bahkan bahan alami pun bisa bermasalah saat digunakan oleh produsen fast fashion. Pada tahun 2019 saja, tanaman kapas konvensional yang ditanam di AS membutuhkan 68 juta pon pestisida. Bahan kimia ini tidak hanya menempel pada tanaman kapas, tetapi juga mencemari tanah dari limpasan air dan menimbulkan risiko pencemaran air dan tanah bagi masyarakat setempat.

Fast fashion tidak menjadi lebih baik ketika sampai pada tahap selanjutnya dalam proses desain (proses pewarnaan pakaian). Dibutuhkan hingga 200 ton air untuk menghasilkan satu ton pakaian berwarna. Parahnya lagi, pewarna konvensional yang digunakan adalah campuran bahan kimia yang tidak terurai dengan baik saat memasuki sungai dan lautan. Selama bertahun-tahun, bahan kimia ini terakumulasi di lingkungan, dan dalam beberapa kasus, saluran air yang dekat dengan pabrik tempat limpasan air dari proses pewarnaan menjadi terlalu berbahaya untuk digunakan. Salah satu contoh: Di China, ibu kota global industri pembuatan pakaian, lebih dari 70 persen sungai terkontaminasi dan dianggap tidak aman untuk digunakan manusia.

Harga manusia

Pakaian murah dibuat oleh tenaga kerja yang dibayar murah: Rp6.000 per jam (upah buruh pabrik yang memproduksi pakaian untuk beberapa merek populer).

Ketika kondisi kerja juga tidak aman, ada harga sangat mahal yang harus dibayar di masa depan. Tragedi runtuhnya Rana Plaza di Bangladesh pada tahun 2013 adalah kecelakaan yang paling mematikan dalam sejarah industri garmen; gedung yang menampung lima pabrik garmen runtuh, menewaskan lebih dari 1.000 pekerja garmen di dalamnya. Insiden tragis ini juga menyoroti kondisi tidak manusiawi di pabrik, termasuk upah budak, pelanggaran hak-hak buruh yang mencakup 14 jam kerja, pelecehan fisik dan verbal, dan paparan bahan kimia beracun.

Sayangnya, masalah ini sebagian besar masih belum mendapat penanganan yang memuaskan di seluruh industri fashion, dan pekerja HAM terus memperjuangkan hak-hak buruh. Salah satu cara yang dapat Anda lakukan untuk membantu adalah dengan cara membeli pakaian yang Bersertifikat Perdagangan yang Adil.

Dampak pada hewan

Hewan terdampak produksi fast fashion melalui beberapa cara. Partikel mikroplastik yang disebutkan di atas tidak hanya mencemari lautan, tetapi juga berbahaya bagi kehidupan laut. Makhluk laut, dari cacing pantai (lugworm) kecil, udang hingga paus raksasa, menelan mikroplastik. Sementara efek mikroplastik pada kehidupan laut masih dipelajari, penelitian telah menunjukkan bahwa pada hewan laut yang lebih kecil, mikroplastik dapat menyumbat jalur pencernaan mereka dan menyebabkan kelaparan.

Lalu, ada ancaman terhadap habitat mereka. Rayon dan viscose terbuat dari bubur kayu. Seluruh hutan di Indonesia, Kanada, dan Amazon telah ditebang untuk membuat pakaian, menghancurkan habitat hewan dalam prosesnya.

Terakhir, dampak paling langsung adalah pada hewan yang dipelihara dan disembelih untuk bahan yang mereka hasilkan, seperti sutra, wool dan kulit. Meskipun ada perdebatan yang melarang penggunaan bahan yang berasal dari hewan, bahan yang digunakan oleh produsen fast fashion sangat mengerikan. Misalnya, ulat sutera direbus hidup-hidup agar sutera dari kepompongnya bisa dipanen. (Peace silk, budidaya ulat sutera dengan cara mengeluarkan pupa secara manual sehingga masih bisa bermetamorfosis menjadi ngengat sutera dianggap sebagai alternatif yang lebih manusiawi).

Pakaian sekali pakai

Sebagian besar pakaian produksi fast fashion berakhir di tempat pembuangan sampah; perkiraan kasar menunjukkan bahwa rata-rata orang Amerika membuang 82 pon pakaian setiap tahun. Karena harga pakaian murah dan produksinya melimpah, frekuensi pemakaian setiap potong menjadi lebih sedikit dan laju pembuangannya lebih tinggi dibandingkan di masa lalu. Warga AS membuang sekitar 11 hingga 12 juta ton tekstil per tahun.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Sekarang, setelah Anda mengetahui apa itu fast fashion dan bisa mengenali merek-merek fast fashion dengan lebih baik, Anda bisa mulai mencari pilihan fashion yang lebih ramah lingkungan. Pada awalnya, Anda mungkin tergoda untuk membeli koleksi "Conscious" dari H&M atau koleksi "berkelanjutan" terbaru dari Boohoo. Namun, ketahuilah bahwa ini biasanya adalah greenwashing: Sebuah strategi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memberikan citra yang ramah lingkungan, tetapi sebenarnya bukan bagian dari solusi.

Sebaliknya, solusi yang cerdas adalah mencari merek berkelanjutan yang telah menerapkan praktik manufaktur berkelanjutan dalam model bisnis mereka sejak awal. Anda juga harus memperhatikan bahan yang digunakan dalam proses pembuatannya, apakah mereka menggunakan kain alami atau organik (bersertifikat GOTS, standar dunia tekstil terkemuka untuk pengolahan serat organik) dan memastikan bahwa pekerja garmen mereka dibayar dengan upah yang layak dan bekerja di bawah kondisi kerja yang adil.

Cara lain untuk menjalankan gaya hidup berkelanjutan adalah dengan mengurangi berbelanja, membeli barang antik atau bekas, memakai barang lebih lama, dan mendaur ulang atau upcycling (mengubah barang lama menjadi barang dengan kemanfaatan baru) pakaian lama Anda sehingga bisa mengurangi limbah tekstil. Mendaur ulang pakaian Anda dapat memiliki manfaat tambahan bagi merek yang menggunakan kain daur ulang untuk pakaian mereka dan bukan mengandalkan sumber daya baru.

Apa selanjutnya untuk fashion?

Ada banyak perubahan yang perlu dilakukan untuk membuat industri fashion lebih baik bagi lingkungan dan produsennya.

Siklus hidup garmen (mulai dari bahan mentah yang digunakan hingga lamanya garmen dipakai dan bagaimana garmen dibuang) adalah kunci untuk menciptakan model fashion yang lebih baik. Industri fashion perlu mempelajari cara membuat pakaian dengan jumlah lebih sedikit, lebih tahan lama dan dibuat dengan cara yang memungkinkan untuk didaur ulang.

Sebagai konsumen, Anda tidak perlu menunggu merek fast fashion mendaur ulang dan membuat pakaian yang lebih baik. Anda bisa mulai mendukung merek fashion berkelanjutan, membeli lebih sedikit secara keseluruhan, dan mendaur ulang serta upcycling pakaian lama Anda. Jika Anda ingin mempelajari lebih lanjut tentang cara mendaur ulang pakaian dan menemukan ide-ide kreatif seputar daur ulang, Anda bisa bergabung dengan komunitas daur ulang terdekat dan memperoleh informasi dari internet atau media sosial.